Museum Makam Tertua Di Dunia

Mengapa kita kurang menyadari bahwa kita memiliki sebuah museum pemakaman yang termasuk tertua di dunia? Mungkin bangsa kita kurang suka pengetahuan sejarah dan ditambah lagi dengan kurangnya pemerintah mengajarkan tentang hal itu ke masyarakat.

Museum itu adalah Taman Prasasti namanya. Disebut demikian karena di sana dipamerkan berbagai macam nisan bergaya eropa dari berbagai abad yang lampau. Dan semuanya bernilai seni tinggi. Apalagi ada banayk tokoh Belanda dan Inggeris yang pernah dikuburkan di sana. Museum yang bekas makam ini adalah makam yang tertua di dunia. Museum ini dulu namanya adalah makam Kebon Jahe Kober (1795) bahkan bisa dibilang salah satu makam tertua di dunia. Lebih tua dari Fort Cannin Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sidney, La Chaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge yang diklaim sebagai makam modern pertama di dunia, atau Arlington National Cemetery (1864) di Washington DC.

Dari museum ini sebenarnya kita bisa menelusuri sejarah Batavia atau Jakarta dengan melihat tahun hidup dan mati para tokoh yang dikubur di situ dulu. Pemakaman ini dulunya adalah pindahan dari pemakaman di pekarangan gereja di Jassen Kerk atau Jembatan Batu yang letaknya di sebelah timur jalan Pinangsia, Jakarta Kota. Oleh karena itu di museum ini ada sebuah nisan yang bertuliskan nama Kapiten Jas. Konon Kapiten Jas ini sesungguhnya tidak ada. Sebab kata Jassenbrug sendiri adalah sebutan dari wilayah yang dipenuhi oleh para tukang kayu dari Ciasem. Sehingga kata Jassen itu adalah keseleo lidahnya orang eropa dalam menyebutkan Ciasem.

Selain itu di museum ini kita juga melihat prasasti peringatan dihukum matinya Peter Ebrevelt. Prasasti tersebut semula berada di jalan Pangeran Jayakarta di depan Gereja Sion. Karena dulunya memang peristiwanya di situ. Ebrevelt adalah tuan tanah pemilik wilayah situ. Namun dia menentang ketika wilayahnya dikuasai oleh para petinggi VOC. Sehingga dia dihukum dengan cara badannya diikatkan pada dua ekor kuda yang berlawanan arah dan kemudian kedua kuda tersebut dicambuk hingga lari. Jadinya tubuh Ebrevelt tercabik-cabik dan dagingnya berceceran di sepanjang jalan tersebut. Sehingga hingga kini daerah tersebut dinamakan Pecah Kulit. Kepala Ebrevelt kemudian ditancapkan pada tombak yang disemen di atas prasasti peringatan tersebut. Selain itu di museum ini ada teredapat nisan dari istri mendiang Thomas Stamford Raffles gubernur Inggeris yang berhasil mengalahkan Belanda-Perancis. Sebab kala itu Belanda adalah sekutu dari Napoleon Bonaparte dari Perancis sehingga akhirnya digempur oleh musuh bebuyutannya yaitu Inggeris. Juga ada makam dari jenderal Kohler yang gugur persis di depan mesjid raya Banda Aceh ketika perang Aceh ke 1 di tahun 1870 an.

Dari museum ini kita juga dapat mengetahui tata cara pemakaman di jaman dulu. Dulu iring-iringan jenazah orang eropa diangkut dengan perahu besar lewat kali krukut di belakang pemakaman tersebut. Sehingga memudahkan dan meringankan transportasinya. Sebab transportasi di jaman itu hanya dengan kuda dan melalui jalan-jalan Batavia yang becek berlumpur. Sehingga itu mengakibatkan roda-roda kereta seringkali amblas ke dalam lumpur sehingga perjalanan menjadi macet. Dan dari dermaga perahu peti jenazah diangkut denagn kereta jenazah yang bagus berwarna hitam dan tertutup oleh kaca besar bertiraikan putih. Ketika iring-iringan jenazah tiba maka sebuah lonceng perunggu di depan makam dibunyikan.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s