Museum Hukuman Mati

Mungkin kita kurang tahu bahwa gedung Staad Huis atau yang sekarang adalah museum Fatahilah di Jakarta Kota adalah saksi bisu dari banyak hukuman mati persis di halaman mukanya.

Alun-alun tersebut dulu oleh penguasa VOC dijadikan lapangan serbaguna dan sebagai pusat kota Batavia sebelum kota berkembang ke arah selatan di Weltevreden atau Gambir. Gedung museum ini dulunya adalah gedung kantor walikota sekaligus juga kantor gubernur jenderal. Dan di halaman belakangnya dan sampingnya serta bawah gedung ini adalah ruang-ruang tahanan. Semua orang yang pernah dihukum mati pasti pernah menginap di sel bawah tanah di sini.

Pada masa kepemimpinan Jan Pietrzoon Coen sudah banyak sekali VOC menghukum mati orang di gedung museum ini. Namun gedung tersebut bukanlah gedung museum yang kita lihat sekarang ini. Gedung museum yang sekarang ini adalah gedung baru yang menggantikan gedung lama sebab gedung yang lama telah hancur akibat gempa besar yang pernah melanda kota Batavia.

Dulu di depan museum ini semua orang diundang untuk menghadiri dan menyaksikan proses hukuman mati. Tentu saja mengerikan sebab pada abad ke 17 tersebut belum ada peralatan penghukuman mati yang menghindarkan penderitaan berkepanjangan dari para korbannya. Seperti misalkan pembantaian terhadap orang-orang Cina yang dituduh sebagai dalang pemeberontakan pada jaman gubernur jenderal Valckenier. Hukuman tersebut masih seperti di Inggeris pada jaman raja Henry yaitu di depan gedung museum ini dibuatkan suatu panggung dan meja besar kemudian satu persatu korbannya maju untuk rebah di atas meja ini dan algojo memotong-motong bagian-bagian tubuh dari orang tersebut sedikit demi sedikit sehingga akhirnya dia mati. Ini adalah cara yang masih peninggalan Romawi.

Di lain kesempatan masyarakat disuruh menonton pemancungan kepala seorang pelaut Belanda di depan museum ini. Perwira muda Pieter Cotenhoef yang masih berusia 17 tahun dihukum mati karena tertangkap berpacaran denagn gadis berusia 13 tahun. Pemancungan di kala itu belum menggunakan guletin melainkan dengan kapak besar. Kemudian besoknya lagi di lapangan yang sama masyarakat diundang menyaksikan hukuman cambuk bagi gadis tersebut. Cara pencambukannya pun tidak main-main seperti di Aceh. Gadis tersebut ditelanjangi dan diikat di lapangan dan punggung serta bokongnya dicambuk ratusan kali hingga berdarah-darah dan hingga korban sampai pingsan. Sudah barang tentu dia pasti tak dapat jalan atau duduk lagi.

Kemudian pada tanggal 29 Juli 1676 di depan museum yang sama dilaksanakan hukuman terhadap empat orang pelaut karena membunuh orang Cina. Kemudian, hampir dalam waktu bersamaan enam budak belian dipatahkan tubuhnya dengan roda karena dituduh mencekik majikannya pada malam hari.

Pada masa VOC hukuman bagi penjahat memang berat. Pelaksanaan hukuman mati pada tiang gantungan, dengan pedang atau guillotine primitif, dilaksanakan di depan serambi Balai Kota pada hari-hari tertentu setiap bulan. Seorang Mestizo, putra seorang ibu pribumi dan ayah berkulit putih, digantung hanya karena mencuri. Sementara delapan pelaut dicap dengan lambang VOC yang panas dan membara, karena disersi dan pencurian.

Prajurit VOC wajib memiliki disiplin yang tinggi. Mereka yang melalaikan tugas tidak ampun lagi akan mendapatkan hukuman berat. Pernah dua tentara Belanda digantung karena selama dua malam meninggalkan pos mereka. Perzinahan, apalagi perbuatan serong, mendapat hukuman berat. Ini dialami oleh seorang wanita Belanda, istri seorang guru, dikalungi besi dan kemudian ditahan dalam penjara wanita selama 12 tahun karena beberapa kali melakukan perselingkuhan.

Dan Untung Suropati pernah lolos dari eksekusi karena dibantu oleh Suzanna, puteri majikannya yang menaruh hati pada budak dari Bali ini. Malah Untung berhasil membunuh Kapten Tack, ketika Tack hendak menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Surapati di Kartasura. Justru akhirnya Tack yang naas dan harus mati dengan kurang lebih 60 luka tusukan di sekujur tubuhnya dan hingga kini baju zirah besi dan ketopong kapten Tack masih disimpan di museum keraton Kartasura.

Seorang pemuda tionghoa bernama Oey juga pernah dhukum gantung di lapangan depan museum itu. Pemuda remaja ini didakwa sebagai tukang perkosa orang dan juga membunuh saingan bisnisnya. Di depan ribuan penonton pemuda ini harus meronta-ronta sekarat ketika tali gantungan menjeratnya hingga mata melotot dan lidah terjulur sehingga algojo terpaksa menutupi mukanya dengan kain untuk menghindarkan pemandangan mengerikan tersebut. Namun pemutusan nyawa ternyata tak begitu mudah sehingga akhirnya algojo menarik kakinya dari pintu di lantai yang bisa dibuka dengan maksud supaya mempercepat kematiannya. Konon bunyi dengkurannya ketika sekarat begitu kencang sehingga semua penonton bisa mendengarnya.

Dan yang paling mengenaskan adalah hukuman mati bagi Pieter Ebervelt. Dia lah tuan tanah yang memiliki sebagian besar wialyah di Jakarta Utara. Tanah tersebut adalah warisan dari orang tuanya. Namun VOC memaksa membelinya dengan harga yang tak pantas. Karena menolak tanahnya dibeli maka dia dituduh memberontak terhadap pemerintah dan dihukum mati dengan cara badannya dirobek oleh empat kuda yang diikatkan di tangan dan kakinya. Dan pecahan daging tubuhnya yang tercabik-cabik itu dilempar keluar tembok kota untuk santapan burung.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s