Rekaman Video Tsunami Aceh Hadir Di Benteng Fair 2014

Kamera yang digunakan merekam Tsunami Aceh 2004,  koleksi Museum Penerangan Jakarta

Kamera yang digunakan merekam Tsunami Aceh 2004,
koleksi Museum Penerangan Jakarta

Betapa ngeri tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004. Air bah melanda Kota Aceh hingga pelataran Masjid Baiturrahman setinggi 6 meter lebih. Semua barang terbawa arus tsunami, termasuk mobil dan manusia. Hanyut terombang-ambing. Suasana begitu mengerikan saat itu.

20140630-1

Mesin ketik huruf Jawa 

Selain koleksi rekaman video tsunami, juga dipamerkan kamera yang dipakai untuk merekam peristiwa tersebut. Kamera yang aslinya dioperasikan oleh Asyim Mulyadi, karyawan LPP TVRI Stasiun Aceh tersebut, sekarang menjadi koleksi Museum Penerangan Jakarta yang kebetulan ikut dipamerkan dalam acara Vredeburg Fair tahun ini. Dari koleksi itu setidaknya memberi gambaran kepada pengunjung museum, betapa dahsyatnya tsunami dan sekaligus mengingatkan kepada pengunjung, bahwa kita di negara rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Untuk itu harus selalu tanggap dengan situasi bencana tersebut.

Selain koleksi film tsunami Aceh, Museum Penerangan Jakarta juga memamerkan koleksi unik, berupa mesin ketik manual beraksara Jawa. Mesin ketik ini pernah dipakai di kalangan Keraton Kasunanan Surakarta tahun dari 1917 sampai 1960. Mesin ketik ini digunakan untuk menuliskan surat-surat penting di kalangan keraton. Sekarang mesin ketik itu tinggal menjadi kenangan kejayaan tulisan Jawa. Karena sekarang, bahasa dan aksara Jawa sudah sangat jarang digunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi secara tertulis. Kalaupun masih ada tulisan Jawa, sekarang sudah banyak dikonversi menggunakan program komputer.

Museum Penerangan Jakarta yang terletak di Jalan Pintu 2 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini, pada pameran Vredeburg Fair 2014 kali ini juga menampilkan koleksi Mikrofon Kyai Balong dan Radio Oemoem. Mikrofon ini ditempatkan di Desa Balong Lereng Gunung Lawu Karanganyar, Jawa Tengah. Mikrofon ini dipakai oleh pemerintah RI semasa gerilya melawan Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Sementara radio Oemoem buatan Belanda tahun 1940 ini digunakan pada masa kependudukan Jepang di tahun 1942-1945. Radio tersebut ditempatkan di tempat-tempat strategis, sehingga rakyat hanya dapat mendengarkan siaran sentral pemerintahan Jepang.

Radio Oemoem

Radio Oemoem

Selain diikuti oleh Museum Penerangan Jakarta, kegiatan Benteng Fair 2014 juga diikuti oleh 25 peserta lainnya, baik kalangan museum (di DIY, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan luar Jawa), perguruan tinggi, dan komunitas sejarah seni budaya Yogyakarta.

Suasana Benteng Fair 2014 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Suasana Benteng Fair 2014 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Bersumber : Tembi.Net

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s